Alamak! Beberapa Orang Ini Melancarkan Pembunuhan Dalam Kondisi Tertidur

Di dalam kehidupan, mengkonsumsi makanan dan minuman adalah menjadi pokok yang paling mendasar untuk melangsungkan kehidupan. Akan tetapi, tidur juga sangat dibutuhkan dalam menjaga baik kondisi jasmani serta rohani seorang manusia. Terlebih lagi, tidur merupakan waktu istirahat apabila seseorang sedang mengalami rasa capek, letih, lelah, dan lain sebagainya ketika sudah melakukan aktivitas seharian. Pada umumnya pula, perasaan ngantuk bisa membuat kita jadi cepat tertidur.

Hmm, namun tidur juga dapat membahayakan diri kita loh! Mengapa demikian? Bukan menyangkut perihal jasmani dan rohani tetapi jiwa manusia lainnya seperti contoh masalah yang akan saya bahas dalam artikel dimana ada Beberapa Orang Ini Melancarkan Pembunuhan Dalam Kondisi Tertidur. Kok bisa gitu? Mari cari tahu semuanya dengan membaca habis tulisan saya dibawah ini:

1) Willis Boshears

Ia merupakan seorang angkatan tentara berpangkat sersan asal Amerika Serikat yang memiliki tempat tinggal di Inggris. Dan pada tahun 1961, Willis Boshears (29), berkunjung ke salah satu bar di Inggris dalam rangka merayakan malam tahun baru dengan meminum vodka/bir.

Disitu, ia bertemu dengan 2 orang rekan bernama Jean Consteble (wanita) dan David Sault (pria). Ketika itu pula, Willis bersama kedua rekannya langsung memesan dan meminum bir/vodka tersebut. Dalam keadaan setengah sadar (terlihat mabuk), Willis pun akhirnya dibawa ke apartement oleh mereka berdua. Sesampainya disana, kedua rekannya itu melakukan hubungan seks dan Willis hanya bisa terbaring nyenyak di satu ranjang dengan mereka.

Sekitar pukul 01:00, Sault beranjak dari tempat tidur sembari ingin berpakaian. Alangkah kagetnya Sault saat melihat leher Jean dalam cengkaraman tangan Willis yang disadari masih keadaan tidur. Sault tambah terpelongok ketika denyut nadi serta napasnya Jean tidak lagi bergerak yang diketahui telah tewas. Menyaksikan peristiwa itu, Sault langsung membanguni Willis dari tidurnya.

Mereka berdua (Willis dan Sault) sama-sama merasa panik dan cemas tentang bagaimana ini bisa terjadi. Kemudian, kala waktu masih pagi (keesokan hari), mereka berinisiatif membuang mayat wanita tersebut kedalam jurang untuk menghilangkan jejak. Namun, beberapa hari kedepan, mayat itu ditemukan oleh kepolisian dan berhasil teridentifikasi bahwa tersebut adalah Jean. Setelah itu, kepolisian langsung mencari bukti dengan melakukan olah TKP dan diketahui bahwa Willis-lah tersangka pembunuhan wanita tadi. Pengejaran dan penangkapan pun dilakukan terhadap Willis.

Pada Februari 1961, Willis harus menjalani persidangan di Essex Assizes atas dakwaan kasus tersebut. Disana, ia mengaku tidak bersalah karena menganggap dirinya dalam kondisi tertidur (tanpa sadar sedikitpun) ketika mencekik leher almarhumah Jean yang pada akhirnya majelis hakim memutuskan Willis tidak bersalah dan ia bisa dibebaskan.

2) Kenneth Parks

Kenneth Parks adalah pria muda asal Regina, Kanada berusia (23), sudah menikah dan mempunyai seorang puteri (5). Jalin hubungan mereka pun awalnya bisa dibilang cukup manis dan harmonis. Tidak hanya itu saja, Parks juga sangat dekat dengan ibu dan bapak mertuanya. Yaps, semua hal itu kemudian berbalik dikala Parks mempunyai kegemaran dalam berjudi hingga pada gilirannya ia dan kelurga kecilnya pun jatuh bangkrut. Diketahui juga ia sering menyalahgunakan uang kantor (tempat bekerja) untuk keperluan rumah tangganya dan perjudian. Dengan kejadian itu, akhirnya Parks harus dipecat dan menjadi pengangguran.

Kasus pembunuhan yang menimpa Parks pun terjadi pada tahun 1987 dimana awalnya ia tertidur pulas dan tanpa tindakan sadar sekitar pukul 00:00, ia bangkit dari ranjang dengan keadaan mata masih tertutup (kayak orang tidur) sambil berjalan keluar rumah sekiranya 14 mil menuju rumah mertuanya. Saat tiba disana, ia kemudian menghampiri kamar ayah dan ibu mertua. Seketika pula, ia mencekik leher, menghujamkam sebilah pisau terhadap kedua mertuanya. Alhasil, ibu menghembuskan napas terakhirnya dengan beberapa bekas luka tusuk. Dan ayah sajalah yang dapat diselamatkan dari maut walau sudah terluka parah.

Selanjutnya, ia pun menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui sudah menghabisi nyawa mertuanya namun dengan dalih tidak mengetahui apa fakta yang telah dilakukannya itu, mengapa bisa terjadi begini (merasa heran). Saat berada di ruang persidangan, ia benar mengaku seperti yang disebutkannya tadi tetapi juga membahas ia termasuk dari keluarga yang mempunyai riwayat Parasomnia. Mendengar pernyataan itu, sejumlah saksi ahli serta hakim melakukan perundingan dan menyetujui bahwa Parks tidak bersalah (dibebaskan) sebab karena peristiwa tersebut dianggap murni kecelakaan, bukannya pembunuhan berencana.

3) Scott Falater

Untuk orang yang melakukan pembunuhan dalam kondisi tertidur berikutnya yaitu Scoot Falater. Pria ini diduga telah meleyapkan nyawa sang istri (Yarmila) dengan cara menikam dan menyayat sebanyak 44 kali tusukan. Menurut saksi mata (tetangga), ia melihat Scoot keluar rumah dengan menyeret sesosok wanita yang diketahui merupakan istrinya kearah kolam renang miliknya (Scoot). Mungkin ia ingin menghilangkan jejak…

Menyaksikan hal itu, tetangganya pun kemudian menghubungi polisi yang mana tak lama berselang mereka berhasil menciduk Scoot. Kepada polisi, ia mengaku tidak mengetahui peristiwa itu kok bisa sampai terjadi dan menimpa dirinya. Yang ia ketahui pada saat kejadian adalah ia tertidur di samping almarhumah istrinya. Ia juga mengemukakan pendapat bahwa ia telah mengalami “penyakit gangguan tidur”.

Namun, pihak kepolisian tidak begitu saja mempercayai cerita Scoot. Pada akhirnya polisi berhasil mengumbar beberapa fakta lewat barang bukti yang ada di rumahnya. Mereka menemukan sebilah piasu, sepatu, pakaian dan sarung tangan yang penuh dengan bercak darah. Kasus ini berlanjut di persidangan tahun 1999, dimana Scoot tetap dianggap bersalah dengan kesimpulan ini adalah benar pembunuhan serta juga penemuan barang bukti yang berhasil didapatkan. Ia pun harus dihukum penjara seumur hidup dan tidak ada pembebasan bersyarat untuknya.

4) Antonio Nieto

Pada 11 Januari 2001, di Malaga, Spanyol seorang pria bernama Antonio Nieto dengan keji tega membantai istri beserta ibu mertuanya. Pembunuhan ini dilakukannya dengan menggunakan alat/perkakas palu dan kapak. Bukan hanya itu, puterinya juga hampir kehilangan nyawa akibat pukulan keras Nieto ke rahangnya. Namun, puterinya itu berhasil mengelabuhi Nieto dengan berpura-pura tewas dan pelaku pun beranjak dari tempat kejadian. Disaat itu, puteri Nieto (tidak diketahui namanya) keluar dan teriak minta tolong. Para tetangga yang mendengar jeritan gadis tersebut langsung bergegas kesana dan menelepon kepolisian.

Nieto pun dalam bidikan polisi dan setelah lama waktu berselang polisi berhasil menangkapnya. Nieto mengaku tidak bersalah dan menganggap dirinya masih dalam kondisi tertidur saat kasus pembunuhan berlangsung. Alih-alih membalikan fakta, sang puteri (anak Nieto) memberikan kesaksian bahwa ia telah berbohong dan membuat keterangan palsu. Mendengar pernyataan tersebut polisi lalu memenjarakannya.

Di tahun 2007, Nieto harus menjalani hukuman di rumah sakit jiwa akibat dianggap punya masalah kejiwaan dan ia juga tidak diperbolehkan untuk mengasuh ataupun berinteraksi dengan anaknya, ditambah lagi ia wajib membayar biaya kompensasi sebesar € 171.100 terhadap keluarga korban.

5) Simon Fraser

Peristiwa pembunuhan yang dibuat oleh Simon Fraser terjadi pada 10 April 1878 di Glasgow, Skotlandia dimana ia sudah menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri yang masih bayi. Saat kejadian, Simon mengaku, ia tidak menyadari mengapa bisa sampai tega membunuh anak itu dengan membenturkan kepalanya ke dinding. Yang kemudian melanjutkan pembelaan, ia bermimpi anaknya akan dimangsa hewan buas.

Semua dalih yang diutarakan Simon pun dianggap berhasil karena sang istri juga sering dijahili kalau ia sedang bermimpi. Pembelaan semakin kuat dimana ayah serta adik Simon yang mengakui semasa masih kecil, mereka pernah hampir terbunuh lantaran dicekiknya. Namun, mereka juga menyangkal dan melihat Simon dalam keadaan terpicing mata seperti orang tertidur ketika melakukannya.

Dengan demikian, ketua hakim memutuskan bahwa Simon tidak bersalah dan dibebaskan dari tuntutan penjara. Tetapi, menurut beberapa sumber media, sejak saat itu Simon harus rela tidur sendirian dikamar yang terkunci rapat dari luar.

6) Isom Bradley

Warga keturunan Afrika yang bermukim di Texas, Amerika Serikat bernama Isom Bradley merupakan salah satu pembunuh dalam kondisi masih tertidur. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1925 dimana ia dan pacarnya (Ada Jenkins) tinggal satu atap dan sekamar. Diketahui, sebelum mereka berdua tidur, Bradley menyimpan lebih dahulu senjata api yang dibawanya dibawah kasur. Ia beralasan, membawa senjata api itu karena punya musuh bebuyutan (Lawrence Williams) yang seakan-akan siap mengancam jiwanya.

Kedua pasangan ini pun tertidur pulas, namun entah mengapa, tiba-tiba Bradley terbangun dengan mata terpejam dan kemudian meraba dikebawahan kasur untuk mencari senjata api tersebut. Saat ditemukan, ia langsung melepaskan tembakan yang tanpa disengaja telah mengenai pacarnya. Begitu terkejut diri Bradley ketika menyalahkan lampu lalu melihat kekasihnya dalam keadaan terluka dan tewas terkapar karena ulahnya tadi.

Bradley pun kemudian pergi ke kantor polisi untuk mempertanggung-jawabkan semua itu. Pada saat persidangan, ia mengakui telah tanpa sengaja membunuh pacarnya. Ia juga menjelaskan, pada saat itu ia masih dalam keadaan tertidur tanpa sadar. Setelah mendengar alibi tersebut, majelis hakim segera mengambil keputusan dan menyatakan bahwa Bradley menderita somnambulism atau sleepwalking dan untuk itu ia dianggap bebas dari hukuman.

Oke, itulah sekian banyak cerita dari saya mengenai orang yang melancarkan pembunuhan dalam kondisi tertidur. Nah, diantara kalian (pembaca), adakah yang mengalami gejala semacam itu? Hihhhh,,, pasti seremmm yah!!!