Monumen Sisingamangaraja XII; Ikonik Bersejarah Tempat Berfoto Warga Medan

Monumen Sisingamangaraja XII; Ikonik Bersejarah Tempat Berfoto Warga Medan

Jika kamu bermukim di kota Medan, tentunya kamu sudah tahu apa itu Monumen Sisingamangaraja XII, benarkan? Jangan ngaku “Anak Medan” kalau dirimu gak mengenal dan bahkan sama sekali belum pernah mengunjungi tempat satu ini. Monumen ini terletak di Jalan Sisingamangaraja, Teladan, Medan Kota.

Tempat itu menjadi suatu Ikonik Bersejarah diantara beberapa ikonik lainnya yang ada di kota Medan. Selain dikenal sebagai ikonik bersejarah, tempat ini juga termasuk salah satu daerah yang wajib kamu singgahi karena memiliki ciri Tempat yang sangat nyaman nan sejuk buat nyantai bareng teman, saudara, maupun sang kekasih, serta memanfaatkan waktu luang sembari Berfoto, khususnya untuk Warga Medan sendiri.

Nah, sebelum kita mengenal seputar monumen tersebut, adakalanya kamu menyimak terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana sosok pejuang satu ini bekerja sangat gigih, dan dengan gagah beraninya dia mempertaruhkan nyawa demi membela negara kita dari serbuan para penjajah. Please cekidot mendottt..

Asal Usul Hingga Munculnya Pertempuran Sisingamangaraja XII

Bila kamu terlahir di era 1980 hingga 2000-an, mungkin sempat melihat wajahnya yang menghiasi uang kertas senilai Rp 1,000. Tampak pada uang kertas tersebut, dimana sosoknya memiliki wajah berjambang yang tersambung dengan janggut, serta memakai pakaian adat setengah badan dan ikat kepala khas Batak. Terlihat wajahnya yang sangar tapi tak sesangar apa yang kamu duga, karena dia hanya sangar terhadap bandit atau penjajah yang ingin membuat konflik pada negerinya, Toba termasuk Indonesia juga pastinya. Para kompeni Belanda yang pernah ada di Indonesia adalah salah satu target khusus dalam penumpasan si figur “uang kertas” pecahan seribu Rupiah edisi 1987 tersebut.

Uang Kertas Pecahan Rp 1000 edisi 1987, yang memperlihatkan sosok Sisingamangaraja XII

Yah, Sisingamangaraja XII merupakan seorang pejantan tangguh pemilik ilmu sakti, namun tak sesakti kekuasaan Tuhan, yang lahir pada 18 Februari di Bakkara, Toba. Dahulunya (semasa kecil), sebenarnya dia memiliki julukan nama Patuan Bosar yang disertai gelar Ompu Pulo Batu. Sejak usianya yang ke-19 tahun, Patuan Bosar Ompu Pulo Batu naik tahta untuk menggantikan kedudukan sang ayah Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon, dengan penyematan Sisingamangaraja XII sebagai maharaja di negari Toba. Perlu kamu ketahui bahwa istilah Sisingamangaraja itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang adapun terdiri atas dua suku kata yakni “Singa” dan “Mangaraja”.

Kala dirinya berkuasa, banyak rakyat Toba yang mengagumi sosok dari kepemimpinan Sisingamangaraja XII lantaran dia dianggap sebagai raja muda yang bijaksana, tegas, adil maupun pemberani. Selain itu, mengapa ikon Sisingamangaraja XII yang terdapat di Medan diperbuat itu karena dia masih dianggap sebagai sosok “Raja Batak” sekaligus Pahlawan Nasional yang mempunyai andil besar dalam mempertahankan dan memperjuangkan tanah leluhur kita semasa penjajahan para koloni Belanda.

Monumen Sisingamangaraja XII - Medan

Adapun yang memicu peperangan diantara Sisingamangaraja XII dengan para koloni Belanda disebabkan oleh adanya selang perdagangan Sumatera, terutama Kesultanan Aceh dan Toba dimana kerajaan Sisingamangaraja ini mampu membuka hubungan bilateral dengan sejumlah negara Eropa lainnya. Pertempuran diantara keduanya dikenal dengan sebutan “Perang Tapanuli” yang mana diketahui berlangsung hingga puluhan tahun lamanya. Selama pertempuran, Sisingamangaraja sempat berpindah-pindah lokasi untuk mencari berbagai dukungan dan bantuan dari rakyat Indonesia lainnya yang sama-sama memendam hasrat ingin menumpas kejahatan para kompeni Belanda.

Dan untuk menghadapi penjajahan Belanda tersebut pada gilirannya, Sisingamangaraja menjalin kerjasama terhadap beberapa suku dan kerajaan Aceh serta kerajaan Minangkabau. Semenjak persekutuan itulah, tanah Aceh dan Batak menjadi lebih solid dan kompak dalam membela negeri leluhur ini dari kolonial Belanda. Dengan semangat juang yang menggebu-gebu, Sisingamangaraja beserta pengikutnya memberanikan diri untuk menggempur Belanda, yang walau akhirnya dia harus gugur di medan peperangan pada tanggal 17 Juni 1907 akibat letusan dari sebuah peluru yang menembus dadanya.

Diketahui, jasad dari Sisingamangaraja XII itu sendiri sebelum dikebumikan di Tarutung, Tapanuli Utara, terlebih dulu diarak dan dipertontonkan kepada warga Toba oleh kolonialisme Belanda. Namun, makamnya kemudian dipindahkan ke Makan Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige, pada 14 Juni 1953.

Demikianlah cerita singkat terhadap apa yang telah diperbuat oleh Sisingamangaraja XII demi berjuang meraih kemakmuran tanah rakyat Indonesia dari penjajahan Belanda, biar sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Hebat, dan salut buat alm. Sisingamangaraja!!!

Bangsa Indonesia, Khususnya Warga Medan Harus Bisa Melestarikan Monumen Sisingamangaraja XII Untuk Mengenang Jasa Kepahlawanannya

Sosok Sisingamangaraja XII diberi gelar penghargaan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional usai Surat Keputusan Pemerintah Republik Indonesia No. 590 tertanggal 19 November 1961. Selain itu, alasan mengapa kemudian Monumen Sisingamangaraja XII dibangun di kota Medan sejak tahun 1979 tersebut, itu demi menghormati kegigihan atas perjuangan yang telah dilakukan sang “Raja Batak”.

Terlihat disana, Monumen yang dibangun itu memiliki latar Sisingamangaraja sedang menunggangi kuda sambil mengacungkan sebilah keris dimana ini mempunyai isyarat bahwasannya dia merupakan sosok yang sangat benci dengan perbudakan dan penindasan, layaknya apa yang sudah diperbuat komunis Belanda.

Monumen Sisingamangaraja XII tersebut juga tampak lebih kental bernuansa Batak dengan tambahan sebuah bangunan rumah adat batak di belakangnya.

Rumah Adat Batak - di Monumen Sisingamangaraja XII, Medan

Menurut kepercayaan, khususnya warga Batak, rumah itu mempunyai tiga bagian yang dapat mencerminkan dunia atau dimensi berbeda-beda. Bagian pertama yaitu atap rumah, yang diyakini mencerminkan dunia para dewa. Bagian kedua yakni lantai rumah, yang diyakini mencerminkan dunia manusia. Sedangkan Bagian ketiga adalah bawah atau kolong rumah, dimana mencerminkan dunia kematian.

Seorang sejarawan asal Medan, Ichwan Azhari, menuturkan Sisingamangaraja memiliki peran dan jasa yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan di Sumatera Utara.

“Sisingamangaraja merupakan pahlawan dari Sumut. Jadi sudah selayaknya monumen tersebut menjadi ikon dan daya tarik bagi wisatawan. Tentunya harus dirawat pula,” katanya.

Disamping itu, apabila kamu ingin berfoto ataupun melihat-lihat dari sekeliling area dalam taman Monumen tersebut maka kamu harus meminta izin terlebih dahulu kepada petugas karena pagarnya selalu dikunci. Namun sangat disayangkan, saya sendiri yang bermaksud mengunjungi tempat itu saja, tak menemukan satupun petugas yang berada disana. Kurang jelas informasi kapan dan berapa tarif untuk bisa masuk ke dalam taman Monumen Sisingamangaraja XII tersebut.

Pintu Masuk Belakang Monumen Sisingamangaraja XXI - Medan

Menurut dari penuturan ibu Sulastri, yang berprofesi sebagai pedagang makanan, menyebutkan bahwa dirinya saja benar-benar tak mengetahui kapan waktu dan berapakah tarif yang harus dibayar agar dapat masuk ke dalam taman, padahal ibu ini juga mengaku sudah lama berdagang disana.

“Kurang tahu dek kalau bukanya kapan, juga waktunya gak gitu jelas. Bukanya terkadang sesuka hati mereka saja, kadang hari Minggu buka, nantinya gak buka lagi,” ungkap ibu Sulastri pada sesi tanya-jawab dari saya, Selasa (18/07/2017).

Tapi, jika kamu berkeinginan untuk melakukan foto-foto dan/atau melihat-lihat sedikit isi dalam taman, seperti pada monumen Sisingamangaraja XII serta rumah adat Batak-nya, kamu bisa melakukannya dari luar pagar yang juga terpampang begitu jelas, serupa apa yang telah saya lakukan di beberapa pengambilan gambar saya saat berada disana.

Demikian itu, kita sebagai warga Sumatera Utara, khususnya Medan harus bisa lebih menjunjung tinggi nilai kebangsaan, dan bersama-sama melestarikan keberadaan Monumen Sisingamangaraja XII ini dengan sebaik mungkin. (Ad)