Inilah Biografi Pramoedya Ananta Toer Yang Menjadi Google Doodle Hari Ini

th (34)

Salam sejati-sehati buat anda temen pembaca Totomania kembali lagi bersama saya Anil Khan. Gimana kabarnya hari ini? Moga-moga masih dalam keadaan sehat wal’afiat semua yah, Amin!!!

Sekarang saya akan membahas tulisan artikel berjudul Biografi Pramoedya Ananta Toer Yang Menjadi Google Doodle Untuk Hari Ini. Apa anda mengenalnya? Mungkin buat segelintir orang masih bertanya, “siapa sih sosok orang ini?”. Nah untuk itu pula, mari kita ulas bersama secara detail agar rasa penasaran anda terkuak.

1) Biografi

th (35)

Nama lengkap: Pramoedya Ananta Mastoer
Alias: Pram/Toer
Tempat lahir: Blora, Jawa Barat
Tanggal lahir: 6 Februari 1925
Meninggal: 30 April 2006
Zodiac: Aquarius
Kebangsaan: Indonesia
Suku: Jawa
Pendidikan: Sekolah Kejuruan Radio
Profesi: Sastrawan
Warga negara: Indonesia
Istri: Maemunah Thamrin
Tempat tinggal: Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur

1.1) Perjalanan Hidup

Pramoedya Ananta Mastoer/Toer secara luas dikenal sebagai salah satu pengarang yang sangat produktif sepanjang sejarah kesastraan Indonesia. Ia tercatat pernah menghasilkan karya dalam bentuk tulisan sebanyak 50 karangan yang diantaranya memiliki 41 buah tulisan berlogat bahasa asing.

Anak sulung dari beberapa saudara ini adalah orang yang hidup dengan latar belakang sederhana yakni dimana Ayahnya berprofesi sebagai seorang guru sedangkan Ibunya penjual nasi. Tetapi semua itu bukan menjadi hambatan yang berarti bagi dirinya untuk menggapai kemauannya sebagai seorang penulis profesional. Dikala sedang menempuh jenjang pendidikan, ia juga bekerja sebagai seorang juru ketik untuk sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di media informasi atau surat kabar di Jakarta. Dengan maksud ingin mencari kecukupan nafkah dan membayar pendidikan dari hasil gajinya sendiri merupakan alasan baiknya dalam mengemban bakti terhadap orangtua hingga mencapai wawasan yang luas didunia pendidikan.

Melalui karya tulisnya, ia pernah mengkritik kehidupan Indonesia pada masa jajahan Belanda dimana telah membuat gerah penguasa dan memenjarakanya selama 1 tahun. Kemudian itu, Pramoedya Ananta Toer juga pernah bersitegang dengan pemerintah Indonesia sendiri yang menyangkut masalah buku berjudul “Hoakiau di Indonesia” yang merupakan pembelaan terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia namun tidak disukai pemerintah Orde Lama (Soekarno); Sampai-sampai dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 oleh rezim Orde Baru (Soeharto) yang mana Pram harus menjalani hukuman penjara selama 30 tahun di Pulau Buru. Walau demikian, Pram tak kenal putus asa untuk terus menulis justru wahyu yang diterimanya adalah berkah. Ia mendapat ide menulis yang luar biasa, hingga dapat terdengar dan terbaca di seluruh dunia dimana ia berhasil menciptakan karya tulisan Tetralogi Buru yang terbagi atas empat novel yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Penulisan ini pun berbuah manis untuk diri Pram, dimana ia menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995. Namun, sekitar 26 sastrawan Indonesia melayangkan surat ‘protes’ ke pihak yayasan Ramon Magsaysay, beberapa orang diantaranya yakni Taufiq Ismail, Mochtar Lubis, dan HB Jassin. Mereka mengemukakan, Pram tak patut menerimanya karena dianggap sebagai “pembunuh” sastrawan yang berada diluar Lekra.

Walau demikian, Pram adalah sosok sastrawan Indonesia yang pantas diacungi jempol dengan memiliki sejumlah penghargaan lainnya seperti disebutkan dibawah ini:

  • Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988.
  • Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989.
  • Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people“, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995.
  • Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people“, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995.
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence” dari UNESCO, Perancis, 1996.
  • Doctor of Humane Letters, “in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom” dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999.
  • Chancellor’s distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding“, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999.
  • Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999.
  • New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000.
  • Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000.
  • The Norwegian Authors Union, 2004.
  • Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004.

2) Pramoedya Ananta Toer Jadi Google Doodle

pramoedya-ananta-toers-92nd-birthday-5677338286096384-hp2x 1

Apakah anda hari ini (6/2/2017) sudah membuka Google? Apa yang anda lihat di lamannya? Pasti anda menemukan ilustrasi seorang pria tua, berambut putih, berkacamata, berkaus, dan tampak tersenyum sedang mengetik mesin manual bukan? Hem, yah itulah ilustrasi gambar seorang Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan asal Indonesia yang mendunia.

Google memilih sosoknya menjadi Doodle karena tepat pada hari ini ia terlahir didunia dengan dalih ingin merayakan ulang tahunnya ke-92 tahun. Meski sastrawan ini telah tutup usia pada tanggal 30 April 2016 lalu dikarenakan penyakit komplikasi diabetes dan jantung, tetapi Pramoedya Ananta Toer adalah sosok terkenal yang patut dikenang dan dicintai oleh masyarakat dunia terutama Indonesia sebab sikap beraninya dalam menentang pemerintah jahat di ranah ini pada waktu kelam dengan mencatatkan sejumlah curahan hati didalam karangannya.

Untitled 2