Gunung Semeru: Kronologi Tewasnya Pendaki Asal Depok Bernama Sahat M. Pasaribu

Gunung Semeru atau gunung mahameru merupakan salah satu gunung berapi yang dikenal masih aktif hingga saat ini. Gunung Semeru terletak di pulau Jawa tepatnya di bagian Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian puncak hingga mencapai 3.676 mdpl (terhitung dari permukaan laut) dimana gunung tersebut juga digadang-gadang sebagai salah satu gunung berapi tertinggi yang berada diurutan ketiga ranah Indonesia sesudah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani. Disamping itu, gunung semeru juga memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan dengan berdirinya sebuah taman bernama Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Keindahan alam yang disertai dengan keinginan seseorang untuk memacu adrenalin dalam menggapai puncak gunung semeru juga diyakini menjadi daya pikat tersendiri mengapa seseorang tersebut ingin sekali berlabuh diatas puncak gunung semeru. Namun, untuk menaklukan perjalanan hingga mencapai kepuncak gunung semeru bukanlah perkara yang gampang. Kesiapan fisik maupun mental adalah kunci penakluk puncak gunung semeru. Jika tidak memiliki hal tersebut maka dapat dipastikan seorang pendaki tidak akan mencapai tujuan dan bahkan membahayakan diri sendiri. Seperti salah seorang bernama Sahat M. Pasaribu (Almarhum), berasal dari Depok yang tewas pada saat ingin mendaki gunung semeru dikarenakan mengalami sakit.

Begini Kronologinya:

Berdasarkan himpunan dari sumber SindoNews.com, beginilah kronologi tewasnya Sahat M. Pasaribu (Almarhum).

Dari penuturan rekan korban yang melapor ke Pos Ranupani, korban awalnya mengeluh masuk angin dan selanjutnya beberapa kali muntah-muntah.

Menurut penuturan Sulistyawan, anggota rombongan yang bersama korban mengaku jumlah rombongan totalnya ada 13 orang. Mereka berangkat dari Ranupani pada Rabu 5 Oktober 2016, pukul 16.00 WIB, dan tiba di Ranukumbolo pukul 21.30 WIB.

Pada Kamis 6 Oktober 2016, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kalimati sekira pukul 11.00 WIB. Sekira pukul 16.00 WIB, rombongan tiba di Kalimati.

Sekira pukul 19.00 WIB, rombongan makan bersama di tenda masing-masing. Saat itu, kondisi cuaca gerimis, dan angin bertiup kencang.

“Korban mengeluh masuk angin dan hanya makan sedikit. Korban sempat dikerik kemudian istirahat sampai pagi,” kata rekan korban yang disampaikan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Antong Hartadi, Sabtu (8/10/2016).

Selanjutnya, pada Jumat 7 Oktober 2016, sekira pukul 01.00 WIB, tiga orang dari rombongan melanjutkan pendakian ke puncak. Sedang anggota rombongan lainnya tidak mendaki ke puncak.

Sekira pukul 08.00 WIB, korban keluar dari tenda dan langsung muntah-muntah berupa air. Korban juga mengeluh pusing dan mual. Sekira pukul 10.30 WIB, rombongan sarapan termasuk korban, namun hanya sedikit yang dimakan lalu dimuntahkan.

Pukul 12.30 WIB, rombongan hendak menuju Ranupani dan baru berjalan 200 meter korban terlihat pucat, bengong, linglung, pandangan kosong, dan tidak kuat jalan.

Rekan korban berusaha menggendong korban tapi tidak kuat. Lalu diputuskan sebagian anggota rombongan mencari bantuan ke Ranupani. Beberapa rekan korban lalu berusaha membawa Sahat menuju Jambangan dengan menggunakan tandu.

Sekira pukul 16.00 WIB, korban dan rekan-rekannya mendirikan tenda di Jambangan. Mereka juga sempat makan di Jambangan bersama korban. Korban masih mengeluh pusing dan mual.

Sekira pukul 19.00 WIB, kondisi korban terlihat semakin parah dan nafasnya mulai serak, seperti lendir di pernafasan. Badan panas, kepala pusing, serta tidak bisa diajak komunikasi. Korban istirahat dengan dua lapis sleeping bag malam itu.

Sabtu 8 Oktober, sekira pukul 00.09 WIB, tim evakuasi datang dan langsung memberikan oxygen kepada korban. Korban juga dikompres air hangat di bagian belakang leher. Sekira pukul 00.15 WIB, nafas korban semakin tidak teratur.

Dan sekira pukul 00.20 WIB, nafas korban tiba-tiba terhenti. Tim evakuasi lalu mengecek denyut jantung dan nadi, tapi tidak ada. Mereka lalu mengevakuasi korban sekira pukul 01.30 WIB menuju Ranupani.

Nah, itulah sejumlah Kronologi Tewasnya Pendaki Asal Depok Bernama Sahat M. Pasaribu digunung semeru yang berhasil terhimpun dari sumber SindoNews.com.

Kesimpulan: Jika kamu juga berkeinginan untuk mendaki gunung semeru namun tidak mau mengalami hal yang sama dengan pria bernama Sahat M. Pasaribu (Almarhum), maka persiapkanlah diri sebaik mungkin dan berhati-hatilah dalam pendakian. Good Luck and God Bless You… Terimakasih 🙂